Green Educator Course News: Alumni Profile October 2017 (Indonesia)

Inspiring Alumni Green Educator Course October 2017

Debbie Indriaty

Debbie Indriaty berasal dari Kalimantan Tengah dan saat ini dia sedang melakukan internship di Pelangi School Ubud, Bali. Debbie memiliki hobi menggambar dan tertarik dengan dunia pendidikan dan lingkungan setelah terinspirasi dari temannya yang menjadi relawan Ransel Buku, sebuah perpustakaan ramah anak dan learning center di Palangka Raya. Lulusan Pendidikan Bahasa inggris dari Univeristas Palangka Raya ini sebelumnya berkerja di Pemerintahan Desa di desa asalnya yaitu Desa Lebo, yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat dan berniat untuk memajukan desanya melalui pendidikan. Melalui Green Educator Course, Debbie belajar mengenai metode-metode pembelajaran yang nanti akan ia implementasikan di Pelangi Education and Environmental Program. Ilmu tentang Compass Model dan Desain Prinsip Permakultur sangat menarik, terutama pada bagian worm compos, materi-materi tersebut menginspirasi Debbie dalam perencanaan program pendidikan yang dia dan rekannya lakukan di Pelangi School.

Monica Indriani Nurjayanti

Monica Indriani, memulai perjalanannya dalam dunia pendidikan dan lingkungan saat memutuskan bergabung di salah satu NGO dua tahun lalu sebagai tim ESD (Education for Sustainable Development) dan komunikasi. Monica bergabung bersama Ransel Buku yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kapasitas anak-anak di bidang pendidikan di desa-desa di pinggir sungai Rungan. Melalui Ransel Buku, Monica akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menjalani masa magang di Pelangi School Ubud selama 1 tahun. Bersama Pelangi School Ubud, Monica bersama temannya menginisiasi suatu program bernama PEEP (Pelangi Education & Environmental Program) dimana merupakan program memberikan anak-anak yang tinggal di Banjar Kumbuh, serta mereka yang masih usia sekolah, dasar pelajaran Bahasa Inggris, lingkungan, matematika, seni, dan topik lainnya. Monica berencana untuk menerapkan konsep yang dipratikkan KemBali, salah satu social enterprise di Green School yang bergerak dalam pengelolaan sampah dengan mulai mengenalkan jenis-jenis sampah kepada anak-anak, kemudian akan memilah sampah bersama anak-anak dalam jenis yang lebih spesifik lagi dan mulai memasukkan unsur keberlanjutan dalam pengetahuan tentang sampah kepada mereka.

Wiwik Subandiah

The Alchemist karangan Paulo Coelho adalah buku yang menginspirasi Wiiwik dan suaminya yang akhirnya memutuskan untuk berhenti dari perusahaan tempat mereka bekerja selama 12 tahun dan memilih untuk mewujudkan cita - cita mereka di dunia pendidikan dengan membangun sebuah Sekolah Alam. Wiwik merasa bahwa anak - anak di sekitar tempat tinggalnya sangat minim akan hiburan yang edukatif karena banyaknya pertunjukan dangdut yang sangat sering dilakukan di kampungnya. Berbekal koleksi buku pribadi, dan rak buku dari mesin bekas penetesan telur, Wiwik mendirikan perpustakaan ALAM RIANG dengan tujuan untuk memberi alternatif hiburan yang lebih edukatif untuk anak anak. Seiring berjalanya waktu, Wiwik merasa bahwa koleksi buku yang tersedia tidak menarik minat anak - anak. Wiwik kemudian melakukan sebuah gerakan 1 Buku 1 Harapan dan terkumpulah 300 buku dengan topik yang berbeda. Perpustakaan Wiwik juga mendapatkan dukungan dari Green Book yang berfokus pada eco-literasi. Wiwik menginisasi program Amal Sampah yang berniat untuk mengubah pola hidup konsumtif menjadi produktif dengan mengajari anak anak membuat kue, mengelolah sampah, berkebun, dan mengajak anak anak peduli lingkungan dengan melakukan aktivitas tersebut.

Munasyarotul Fadlilati

Munasyarotul Fadlilati berasal dari Jawa Timur, mendirikan perpustakaan kecil Taman Baca Masyarakat Bintang Briliant untuk anak - anak sekolah yang tinggal di sekitar rumahnya. Kegiatan Taman Baca masyarakat Bintang Briliant antara lain adalah belajar bersama, lomba menggambar dan mewarnai, lomba baca puisi, pidato, bedah buku, studi wisata ke tempat bersejarah, dan belajar di alam terbuka. Munasya, adalah seorang blogger (munasya.com​) dan salah seorang Green Guru yang dibina oleh Green-Books untuk mempromosikan dan memperkenalkan pendidikan berbasis pada lingkungan melalui literatur. Dalam sebuah tulisannya, Munasyah membahas mengenai isu pengelolaan sampah dengan cara membangun dan mengelola Bank Sampah di komunitas atau kelompok kecil. Dengan kemampuan dan pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti Green Educator Course ia berharap semakin banyak orang yang terinspirasi dan menjadi sadar terhadap pendidikan lingkungan yang berkelanjutan.

Nurul Qisthi

Nurul Qisthi bekerja sebagai guru bahasa inggris di sebuah sekolah swasta, SMP Islam Manbaul Ulum di kota Gresik. Selama 12 tahun mengajar, dia mulai mencintai dan belajar tentang pendidikan lingkungan praktis sejak tiga tahun silam. Selain mengajar, dia mulai menekuni bertanam dengan cara hidroponik secara otodidak dan dia pun mengajak siswa-siswinya untuk menjalankan kebun hidroponik bersama sama. Qisthi juga memasukkan isu lingkungan pada proses pembelajaran bahasa inggris di sekolahnya. Qisthi adalah seorang Green Guru (sebutan untuk koordinator Eco Literasi) di bawah bimbingan Green Books dan bertanggung jawab untuk mengajarkan dan menerapkan eco-activity, agar anak anak lebih peduli dengan lingkungan dan mencintai satwa indonesia.

Rachma Amaleni

Berawal dari mengenal dunia relawan pada saat belajar di USA selama 1 tahun, Leni kembali ke Indonesia dengan membawa misi baru, yaitu memberi sesuatu kepada komunitas. Beberapa bulan setelah tiba di Indonesia, Leni pindah ke Bali untuk bekerja part time dan volunteering dengan beberapa NGO. Pada awal tahun 2014, salah satu NGO dimana Leni volunteering adalah Green-Books.org. Green-Books bergerak di bidang Eco-Literacy dengan memberikan bantuan buku-buku bertemakan alam dan lingkungan hidup bagi mereka yang mengajukan program Eco-Library untuk lokasi mereka. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anak-anak akan alam, dan lingkungan hidup, sehingga anak-anak dapat mencintai dan melindungi alam kita ini. Tujuan dari program Eco-Library ini sangat menginpirasi Leni untuk melakukan sesuatu yang lebih, sehingga pada tahun 2015 dia memutuskan untuk bekerja dan melakukan hal yang lebih nyata sebagai Eco Library Project Coordinator.

Disrekia

Disrekia berasal dari Desa Tembak, Kalimantan Barat, dan telah menyelesaikan pendidikan bahasa inggris di Yogakarta. Disrekia ingin membantu komunitasnya untuk dapat berkomunikasi dengan semua orang agar peduli dengan masalah yang ada di desanya terkait deforestasi dan satwa yang terancam akibat isu kerusakan lingkungan. Setelah lulus kuliah, dia kembali pulang untuk mengajar di kampung dan bergabung di berbagai organisasi seperti Gunung Saran, Temawang Sanung, Caritas dan koperasi-koperasi kecil, yang bertujuan untuk memfasilitasi dan mengedukasi masyarakat mengenai program eco-tourism, mengembangkan kerajinan tangan untuk pendapatan tambahan bagi keluarga, mengembangkan minat tarian tradisional bersama anak-anak, dan program penanaman pohon. Ia bertekad untuk terus berkarya dalam menerapkan konsep sekolah hijau dan pelestarian budaya di sekolah maupun di komunitasnya, supaya hutan tropis Kalimantan serta nilai adat dan budayanya tetap terjaga.

Widia Lestari

Widia Lestari merupakan salah satu tim peneliti dari the University of Melbourne untuk proyek energi terbarukan yang dilaksanakan bersama dengan peneliti dari tiga universitas lainnya, yaitu Monash University, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Paramadina. Proyek yang ia kerjakan merupakan proyek yang bertujuan untuk membangun koalisi dengan pelaku-pelaku energi terbarukan di Indonesia, termasuk di dalamnya pemerintah, pihak swasta, aktivis, dan masyarakat lokal. Koalisi ini dibangun dalam usaha memahami sistem dan proses pengadaan energi terbarukan yang kedepannya akan menjadi acuan untuk meningkatkan pengelolaannya di Indonesia, terutama di wilayah terpencil.

Putu Ayu Swarni (Arni)

Arni menamatkan pendidikan dengan latar belakang Kimia dan menulis tentang Green Chemistry sebagai tugas akhirnya. Green Chemistry dapat diaplikasikan pada percobaan kesetimbangan kimia untuk siswa tingkat Sekolah Menengah Atas dengan menggunakan bahan yang ramah lingkungan seperti teh, cuka, betadine, dan detergent untuk mengganti penggunaan senyawa, sianida, HCL dan NaOH. Penelitian ini membawanya pada keinginan untuk memulai pendidikan untuk keberlanjutan di sekolah nasional. Arni menyadari bahwa pendidikan untuk keberlanjutan belum diakomodasi dalam kurikulum nasional. Solusi yang muncul dalam pikirannya adalah dengan mengadaptasi pendidikan untuk keberlanjutan yang telah diawali oleh Green School. Arni terinspirasi untuk datang ke Green School dalam program Green Educator Course setelah melihat kegiatan Bye-Bye Plastic Bag di media Instagram. Arni berasal dari Karangasem, sebuah kabupaten dengan pendapatan terendah di Provinsi Bali dan bermimpi untuk mengajak pemuda, khususnya siswa-siswi SMA untuk belajar lebih dekat dengan alam melalui projek-projek yang dapat menumbuhkan kesadaran tentang keberlanjutan lingkungan, sosial, dan ekonomi, seperti yang diterapkan oleh Green School.

Petricia Andini Hutasoit

Petricia Andini Hutasoit saat ini berkerja di Borneo Nature Foundation yang berada di Kalimantan Tengah sebagai staf edukasi. Ketertarikannya dengan lingkungan dan pendidikan, membawanya menjadi seorang sukarelawan di sebuah organisasi non profit yang bergerak di bidang lingkungan dan kemudian melakukan internship di Sekolah Pelangi Ubud, Bali. Setelah menyelesaikan masa internshipnya, dia kembali ke Kalimatan Tengah membawa bekal ilmu yang dia gunakan untuk mengembangkan pendidikan di daerahnya. Bersama rekannya, mereka menjalankan program pendidikan Anak Sabangau. Dia mengajar anak-anak yang tinggal di desa dekat Taman Nasional Sabangau, mulai dari pendidikan lingkungan, pelajaran sekolah, hidup sehat dan pelestarian budaya dengan belajar menari tarian suku Dayak. Kegiatan ini dilakukan 3 hari dalam seminggu setelah pulang sekolah di tribun pelabuhan yang ada di pinggir sungai Sabangau. Ia ingin mengadaptasi proyek Kembali dengan membuat program pilah sampah ke dalam 6 jenis sampah dan berkerjasama dengan pemulung lokal. Dia juga ingin mengajak anak-anak didiknya membuat kebun dengan konsep permakultur dan memulai zero waste management.

Retno Kawuri

Dr.Dra Retno Kawuri , M.Phil, bekerja di jurusan Biologi Universitas Udayana Bali dan saat ini menjabat sebagai Kepala Laboratorium Mikrobiologi. Retno mengajar di S1 Biologi danFarmasi dan di S2 Magister Biologi. Salah satu fokusnya adalah Mikrobiologi tanah dan pengelolaan limbah. Salah satu penelitian Retno terfokus pada bakteri Streptomyces sebagai penghasil antibiotik yang digunakan sebagai biokontrol patogen pada tumbuhan, udang dan larva nyamuk Demam Berdarah.Selain itu, antibiotik yang telah berhasil diisolasi juga digunakan untuk membunuh patogen bakteri penyebab sakit paru - paru dan pneumonia.

Bayu Suci Kurnia

Bayu adalah seorang mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi di UIN Suska Riau. Bersama rekan mahasiswa lainnya, ia bergabung dalam sebuah gerakan untuk pendidikan khususnya di wilayah pedalaman Riau, UIN Suska Mengajar. Perjalanan ini memberi sebuah pengalaman dan pelajaran yang bernilai baginya. Dia menyadari bahwa pelestarian alam telah menjadi aturan dalam kehidupan masyarakat suku Talang Mamak. Dengan mengenal, tinggal dan menjalani keseharian bersama masyarakat setempat, ia memahami bahwa ia harus menjadi bagian dalam pelestarian lingkungan. Green Educator Course (GEC) merupakan sebuah perjalanan menuju visi besar untuk terlibat dalam usaha pelestarian lingkungan, terutama melalui pendidikan. Bayu menyadari bahwa usaha kelestarian lingkungan harus dimulai dari hal terkecil, dari diri sendiri, dan dari orang-orang terdekat.

Ni Luh Arpiwi

Luh Arpiwi adaah staf pengajar di jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana. Fokus pengajaran Arpiwi adalah pada matakuliah fisiologi tumbuhan dan ilmu - ilmu botani terkait. Fokus penelitiannya adalah bioenergi khususnya biodiesel dari minyak tanaman non pangan, jelantah, dan bioetanol dari limbah buah buahan yang merupakan salah satu energy yg terbaharukan, ramah lingkungan, dan biodegradable.

Modesta Wisa

Modesta Wisa berasal Saringkuyang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, dan telah menamatkan kuliahnya dengan mengambil jurusan Kesehatan Lingkungan. Modesta kembali ke desanya di tahun 2012. Tahun 2014, Modesta bergabung bersama Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan bertemu dengan banyak orang yang merasa bahwa sedang terjadi perubahan pada kampung halaman mereka, termasuk kampung halamannya. Di kampungnya, Modesta terlibat aktif dalam sanggar seni yang dia ikuti sejak kecil. Pada tahun 2016, Modesta dan empat temannya membentuk sekolah adat karena adanya kekhawatiran bahwa semakin banyak anak muda yang tidak lagi menggunakan bahasa tradisional, serta orang tua yang tidak lagi mengajarkan anaknya untuk menggunakan bahasa daerah, permainan tradisional yang sudah hilang, kesenian tradisional, dan ritual yang mulai hilang.

Ramdani Safitri

Fitri berasal dari Simelue, Aceh, dan memiliki motivasi yang kuat untuk membawa perubahan di kampung tempat dia tinggal. Fitri merasa bahwa generasi muda di desa tempat tinggalnya akan memegang peranan penting dalam membawa perubahan lingkungan yang lebih baik. Pengalaman Fitri sebagai guru mengaji di Tempat Pengajian Anak mengantarkannya pada inisiatif untuk mengajarkan mereka mengenai isu lingkungan dan bagaimana mereka berperan menyelesaikan masalah lingkungan yang ada di desa mereka.

I Putu Joni Wira Sugiartha

Putu Joni berhenti dari pekerjaanya di dunia pariwisata dan berusaha mencari dunia baru untuk menjalani hidupnya. Kecintaannya terhadap lingkungan bermula saat menjemput anak temannya yang bersekolah di Green School. Ia kemudian mendaftarkan dirinya melalui program magang Green School selama enam bulan dan mengantarkannya sebagai asisten fasilitator guru olah raga (physical education). Kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam Green Educator Course memberikan inspirasi dan pengetahuan dan dia berencana untuk membawa perubahan ke komunitas masyarakat tempat ia tinggal.

I Made Yudiana

Dekna merupakan seorang guru di SMA NEGERI 1 ABIANSEMAL. Dengan mengikuti Green Educator Course, ia berharap dapat menjadi penggerak di dalam masyarakatnya dan mengajak mereka untuk lebih peduli dengan lingkungan, serta memanfaatkan limbah dan sampah menjadi berbagai produk yang berguna. Dekna juga mendapatkan inspirasi setelah bertemu dengan peserta GEC lainnya, serta berbagai pengetahuan baru yang ia dapatkan selama program berlansung.